Tuesday, June 03, 2008

Read the Numbers on Your Fruit


I learned that sticker labels on the fruits actually tell you how the fruits have been grown - whether they were organically grown or conventionally grown with pesticides and herbicides;


Conventional Fruit

Labels Four digits and does not start with 9

** mostly starting with the digit 4

Organic Fruit

Labels Five digits and starts with number 9

Genetically Modified Fruits

Start with the digit 8.


Okay, so if you come across an apple in the store and it's labels 4922, it's an conventional apple grown with herbicides and harmful fertilizers. If it has a sticker 99222, it's organic and safe to eat. If it says 89222, then RUN!!!! It has been genetically modified (GMO).


Source : email

Thursday, May 29, 2008

Tazkirah for today

Hari ini giliran ku memberi tazkirah pada tazkirah jabatan setiap hari jumaat. Memandangkan ramai yang bercuti (sempena cuti sekolah) dan ramai juga yang mempunyai urusan lain (Meeting JKT ICT) dan sebagainya hanya 7 orang sahaja yang menghadiri sesi tazkirah pagi ini :). Puan Sue jadi pengerusi dan aku sebagai pemberi tazkirah.

Mulanya, bercadang nak bagi tazkirah yang panjang sedikit. Tapi memandangkan hadirinnya amat sedikit so, tazkirah itu dipendekkan dengan hanya membacakan sedikit kisah Rasulullah. Kisah tersebut adalah seperti di bawah:


Kisah Rasulullah

Salah satu sahabatnya meninggal dunia Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rasulullah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Isterinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di katakannya?" "saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong." "Bagaimana bunyinya?" desak Rasulullah. Isteri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru .... andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sedar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?" Rasulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumaat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk kerana tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal solehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi,pasti pahalanya lebih besar pula. Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala,ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya,waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, ditepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil,hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru,selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Cuba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah?" tanya sang isteri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya,tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu.

Kerananya,ia pun menyesal dan berkata ' kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separuh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakikatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain.

Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Kerana itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula." (surat Al Isra':7)

Sekian, Wassalam.